Featured Video

News Update :
Home » » Nostalgia: Berharap Transmigran Kembali ke Nagan Raya

Nostalgia: Berharap Transmigran Kembali ke Nagan Raya

Thursday, September 1, 2011 1:50 PM

HARI jumat, suasana di Pasar Simpang Empat, Kecamatan Seunagan, Kabupaten Nagan Raya, tampak lesu. Tidak ada aktivitas yang menonjol saat itu. Padahal, pasar tersebut pernah menjadi barometer perekonomian di kabupaten tempat terjadinya tragedi Beutong Ateuh di Kecamatan Beutong.

Toko-toko dari papan yang didirikan tahun 1970-an tampak lebih banyak tutup. Hanya beberapa toko yang tetap beraktivitas. Itu pun sebatas warung kopi, pedagang pupuk, bahan pokok, dan kantor pemerintah.
Ternyata puncak transaksi sekaligus keramaian masyarakat di kawasan tersebut jatuh pada hari Minggu. Hari peukan (pasaran).

Dulu, semasa Kabupaten Nagan Raya masih menjadi bagian dari Kabupaten Aceh Barat, pemerintah menetapkan hari Minggu sebagai waktu transaksi ekonomi sehari penuh. Tidak jelas tujuannya. Namun, menurut pedagang setempat, Razali, ketika itu pemerintah ingin menggairahkan perekonomian di kawasan yang dikelilingi perkebunan dan perkampungan transmigran tersebut.

"Memang terbukti, setiap hari Minggu orang entah dari mana tumplek di sini. Maklum, harga-harga di sini terkadang lebih murah dari Meulaboh (ibu kota Aceh Barat)," ujar Razali yang berdagang pupuk.
Saat itu, katanya, dia bisa beromzet sedikitnya Rp 3 juta setiap hari pasaran. Sekarang penjualan sebesar itu belum tentu dicapainya.

Demikian juga Bustamam (31). Pedagang hasil bumi ini malah mengalami penurunan omzet yang sangat drastis.
Sebelum tahun 2001, setiap minggu Bustamam mampu menjual hasil pertanian transmigran dan warga setempat ke Kota Medan, Sumatera Utara, sedikitnya 20 ton. Saat ini paling banyak hanya 16 ton seminggu.
Begitu pula penjualan untuk konsumsi lokal. Dalam sepekan, bawang merah sebanyak 4 ton yang rutin dipasoknya dari Medan akan ludes. Namun, sekarang tinggal 1 ton setiap minggu.

"Terasa sekali tidak ada mereka (transmigran). Kami berharap mereka ada lagi di sini supaya Nagan Raya semakin maju," kata Bustamam.

Menurut Bustamam dan Razali, sedikitnya 20.000 transmigran dari empat lokasi transmigrasi di sekeliling Nagan Raya mulai eksodus pada tahun 2001. Kondisi keamanan yang semakin tidak menentu saat itu memaksa mereka meninggalkan perkampungannya. Padahal, transmigran yang berada di sana sejak tahun 1982 sangat berperan dalam roda perekonomian di Nagan Raya.

KINI kabupaten baru hasil pemekaran dari Kabupaten Aceh Barat berdasarkan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2002 tanggal 2 Juli 2002 itu sedang berupaya bangkit dari keterpurukan akibat kondisi keamanan. Berpenduduk sedikitnya 142.000 jiwa yang tersebar di 222 desa pada 5 kecamatan, Nagan Raya memiliki berbagai potensi yang belum optimal digarap.

"Kami memiliki potensi pertambangan, pertanian, dan perkebunan. Jika ada investor yang hendak menanamkan modalnya di Nagan Raya, kami akan memberikan banyak kemudahan. Di antaranya adalah menyediakan lokasi industri, memudahkan perizinan, dan meringankan retribusi daerah," kata Penjabat Bupati Nagan Raya Teuku Zulkarnaini yang didampingi Sekretaris Daerah Nagan Raya Dermawan di ruang kerjanya di Jeuram, Nagan Raya, 287 kilometer dari Banda Aceh.

Potensi yang paling mudah dikembangkan pada saat ini adalah pembangunan pabrik pengolahan kelapa sawit (PKS). Karena, sebanyak 56.097 ton produksi sawit segar dari areal seluas 12.887 hektar terpaksa diolah di Kabupaten Aceh Barat. Padahal, jika terdapat PKS di Nagan Raya, hasil panen perkebunan rakyat dapat diserap pabrik tersebut. Dengan demikian, keuntungan rakyat akan lebih besar lagi.
Ini merupakan upaya untuk mendongkrak pendapatan asli daerah (PAD) yang tahun ini ditargetkan mencapai Rp 1,4 miliar. Sementara itu, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2004 Kabupaten Nagan Raya telah ditetapkan sebesar Rp 144 miliar.

"Kami masih mengandalkan PAD dari sektor jasa. Ke depan, kami akan mengoptimalkan sektor perkebunan dan pertanian sebagai primadona PAD Nagan Raya," ujar Zulkarnaini.
Selain industri, Pemerintah Kabupaten Nagan Raya juga memberi perhatian besar terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM). Sedikitnya Rp 30 miliar atau lebih dari 25 persen dana APBD 2004 dialokasikan untuk pendidikan. Tidak tanggung-tanggung, pemerintah kabupaten ingin mewujudkan kembali kejayaan Nagan Raya sebagai pusat pendidikan di pantai barat Nanggroe Aceh Darussalam.

"Ini yang utama dalam pembangunan daerah. Dengan kualitas SDM yang tinggi, Nagan Raya akan lebih cepat mengejar ketertinggalan dari daerah lain," katanya menjelaskan. Untuk itu, lanjutnya, program pembangunan infrastruktur yang mendukung pemerintahan dan perekonomian akan dioptimalkan pada tahun 2004-2005.
"Setidaknya, penyediaan infrastruktur akan lebih memacu gairah perekonomian Kabupaten Nagan Raya sehingga investor akan segera datang kemari," kata Zulkarnaini. (HAMZIRWAN)

Bappenas.go.id
YOU MIGHT ALSO LIKE

0 comments:

Post a Comment

 

© Copyright IKNR News 2010 -2011 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.